Cerita Seru dari Kegiatan Sekolah
Di pagi hari, sekolahku mengadakan sosialisasi mengenai Saint Mary’s Way. semua murid kelas 9 diminta naik ke aula untuk mendengarkan penjelasan lengkap tentang kegiatan Saint Mary’s Way yang akan dilaksanakan. Di dalam aula suasananya lumayan ramai, tapi aku tetap fokus karena penasaran kegiatan apa saja yang bisa dipilih. Setelah guru-guru menjelaskan tujuan dan manfaat program ini, kami satunya-satu diminta memilih kegiatan yang ingin diikuti.
Aku langsung memilih kegiatan mengunjungi Panti Cahaya Kasih, karena dari awal aku sudah ingin bertemu anak-anak kecil yang lucu dan gemesin. Rasanya menyenangkan kalau bisa menghibur mereka dan berbagi sedikit kebahagiaan. Setelah semua murid selesai memilih, kelompokku pun terbentuk. Tidak lama setelah itu, aku dan kelompokku mulai membuat rencana untuk kegiatan di pantinya nanti. Kami berdiskusi tentang apa saja yang perlu dibawa, bagaimana susunan acara saat di panti, serta tugas masing-masing anggota. Rasanya seru karena kami benar-benar ingin mempersiapkannya dengan baik supaya adik-adik kecil di sana merasa senang.
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Rabu, aku dan beberapa temanku pergi ke Borma setelah pulang sekolah. Kami berangkat menggunakan GrabCar. Di sana, kami membeli snack-snack yang aman dan disukai anak kecil. Kami memilihnya dengan teliti, karena kami ingin memberikan yang terbaik. Setelah selesai belanja, kami kembali dan mulai menyusun bingkisan-bingkisan kecil yang nanti akan dibagikan. Sambil menata snack, aku membayangkan wajah gembira anak-anak kecil itu, dan itu bikin aku makin semangat.
Tapi sayangnya, sehari sebelum hari keberangkatan, ibuku tiba-tiba memberi kabar bahwa ada anggota keluarga kami di Surabaya yang meninggal. Karena Surabaya tidak terlalu jauh dan keluarga harus berkumpul, aku terpaksa ikut pergi untuk melayat. Aku sedih karena itu berarti aku tidak bisa ikut ke Panti Cahaya Kasih. Begitu mengerti kondisinya, aku cuma bisa pasrah. Walaupun kecewa, aku tetap ikut perjalanan keluarga ke Surabaya.
Saat hari kegiatan berlangsung, aku hanya bisa melihat dokumentasi yang dikirimkan teman-temanku lewat WhatsApp. Di foto-foto itu terlihat jelas bagaimana anak-anak kecil di panti begitu senang saat menerima bingkisan. Ada yang tertawa, ada yang malu-malu, ada yang malah nangis, dan ada yang sedikit nyebelin juga, kata teman-temanku. Melihat dokumentasi itu rasanya campur aduk—aku ikut senang, tapi juga iri karena tidak bisa datang langsung. Walaupun begitu, aku tetap merasa lega karena aku ikut berkontribusi membeli snack-snack untuk mereka.
Setelah aku pulang dari Surabaya dan kembali masuk sekolah, teman-temanku sibuk membicarakan pengalaman mereka di panti. Jujur, aku cuma bisa diam sambil merasa iri. Aku ingin juga punya cerita lucu atau pengalaman seru seperti mereka, tapi apa boleh buat. Guru kemudian meminta kami membuat presentasi Canva yang nanti dipresentasikan di depan teman-teman, guru, dan para orang tua.
Hari presentasi pun tiba. Aku lumayan grogi karena ini pertama kalinya aku presentasi di depan semua orang tua siswa, dan tentu juga di depan orang tuaku sendiri. Saat giliran kelompok kami tampil, jantungku deg-degan banget. Tapi syukurlah, presentasinya berjalan dengan lancar. Setelah selesai, waktu aku turun dari panggung, aku langsung menghela napas panjang. Rasanya lega banget.
Setelah itu aku lanjut menonton presentasi kelompok lain. Mereka punya kegiatan yang beda-beda, mulai dari kunjungan sosial sampai membuat proyek tertentu. Awalnya seru, tapi lama-lama aku mulai bosan dan punggungku terasa sakit meskipun duduk di kursi. Tapi aku tetap menonton sampai semua kelompok selesai, lalu akhirnya aku bisa pulang dan istirahat.
Beberapa hari kemudian, sebagai pengganti Saint Mary’s Way, aku dan teman-teman yang tidak ikut kegiatan utama diberi tugas untuk pergi ke daycare. Saat masuk ke daycare itu, aku merasakan suasana yang damai dan menenangkan. Anak-anak kecil di sana langsung menyambut kami dengan tingkah laku yang lucu dan menggemaskan. Di sana, aku mengajak mereka bermain, menemani mereka makan, dan bahkan ada satu anak kecil yang terus-terusan minta ditemenin dari awal sampai selesai. Capek sih, tapi menyenangkan. Di tengah kesibukan itu aku merasa seperti menemukan ketenangan baru—rasanya hati adem dan rileks walaupun capek.
Kami juga ikut makan bersama selama tiga hari itu. Makanannya enak-enak: ada nasi uduk, bubur, dan nasi kuning. Aku juga melihat Nico dan Zevan membantu memasak makanan untuk anak-anak daycare. Guru-guru di sana pun terlihat sangat sabar membantu anak-anak makan, bahkan aku sempat melihat satu guru membantu seorang anak yang kesulitan makan.
Di daycare itu, aku jadi berpikir bahwa banyak anak kecil yang harus dijaga guru-guru karena orang tua mereka sibuk bekerja. Dari situ aku jadi lebih bersyukur, karena orang tuaku selalu berusaha menjemputku tepat waktu dan hadir untukku.
Di akhir kegiatan, aku teringat ayat dari Tesalonika 5:18:
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Daycare yang kami datangi berada di Santa Maria
Dokumentasi:
Cerita Seru dari Kegiatan Sekolah
Di pagi hari, sekolahku mengadakan sosialisasi mengenai Saint Mary’s Way. semua murid kelas 9 diminta naik ke aula untuk mendengarkan penjelasan lengkap tentang kegiatan Saint Mary’s Way yang akan dilaksanakan. Di dalam aula suasananya lumayan ramai, tapi aku tetap fokus karena penasaran kegiatan apa saja yang bisa dipilih. Setelah guru-guru menjelaskan tujuan dan manfaat program ini, kami satunya-satu diminta memilih kegiatan yang ingin diikuti.
Aku langsung memilih kegiatan mengunjungi Panti Cahaya Kasih, karena dari awal aku sudah ingin bertemu anak-anak kecil yang lucu dan gemesin. Rasanya menyenangkan kalau bisa menghibur mereka dan berbagi sedikit kebahagiaan. Setelah semua murid selesai memilih, kelompokku pun terbentuk. Tidak lama setelah itu, aku dan kelompokku mulai membuat rencana untuk kegiatan di pantinya nanti. Kami berdiskusi tentang apa saja yang perlu dibawa, bagaimana susunan acara saat di panti, serta tugas masing-masing anggota. Rasanya seru karena kami benar-benar ingin mempersiapkannya dengan baik supaya adik-adik kecil di sana merasa senang.
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Rabu, aku dan beberapa temanku pergi ke Borma setelah pulang sekolah. Kami berangkat menggunakan GrabCar. Di sana, kami membeli snack-snack yang aman dan disukai anak kecil. Kami memilihnya dengan teliti, karena kami ingin memberikan yang terbaik. Setelah selesai belanja, kami kembali dan mulai menyusun bingkisan-bingkisan kecil yang nanti akan dibagikan. Sambil menata snack, aku membayangkan wajah gembira anak-anak kecil itu, dan itu bikin aku makin semangat.
Tapi sayangnya, sehari sebelum hari keberangkatan, ibuku tiba-tiba memberi kabar bahwa ada anggota keluarga kami di Surabaya yang meninggal. Karena Surabaya tidak terlalu jauh dan keluarga harus berkumpul, aku terpaksa ikut pergi untuk melayat. Aku sedih karena itu berarti aku tidak bisa ikut ke Panti Cahaya Kasih. Begitu mengerti kondisinya, aku cuma bisa pasrah. Walaupun kecewa, aku tetap ikut perjalanan keluarga ke Surabaya.
Saat hari kegiatan berlangsung, aku hanya bisa melihat dokumentasi yang dikirimkan teman-temanku lewat WhatsApp. Di foto-foto itu terlihat jelas bagaimana anak-anak kecil di panti begitu senang saat menerima bingkisan. Ada yang tertawa, ada yang malu-malu, ada yang malah nangis, dan ada yang sedikit nyebelin juga, kata teman-temanku. Melihat dokumentasi itu rasanya campur aduk—aku ikut senang, tapi juga iri karena tidak bisa datang langsung. Walaupun begitu, aku tetap merasa lega karena aku ikut berkontribusi membeli snack-snack untuk mereka.
Setelah aku pulang dari Surabaya dan kembali masuk sekolah, teman-temanku sibuk membicarakan pengalaman mereka di panti. Jujur, aku cuma bisa diam sambil merasa iri. Aku ingin juga punya cerita lucu atau pengalaman seru seperti mereka, tapi apa boleh buat. Guru kemudian meminta kami membuat presentasi Canva yang nanti dipresentasikan di depan teman-teman, guru, dan para orang tua.
Hari presentasi pun tiba. Aku lumayan grogi karena ini pertama kalinya aku presentasi di depan semua orang tua siswa, dan tentu juga di depan orang tuaku sendiri. Saat giliran kelompok kami tampil, jantungku deg-degan banget. Tapi syukurlah, presentasinya berjalan dengan lancar. Setelah selesai, waktu aku turun dari panggung, aku langsung menghela napas panjang. Rasanya lega banget.
Setelah itu aku lanjut menonton presentasi kelompok lain. Mereka punya kegiatan yang beda-beda, mulai dari kunjungan sosial sampai membuat proyek tertentu. Awalnya seru, tapi lama-lama aku mulai bosan dan punggungku terasa sakit meskipun duduk di kursi. Tapi aku tetap menonton sampai semua kelompok selesai, lalu akhirnya aku bisa pulang dan istirahat.
Beberapa hari kemudian, sebagai pengganti Saint Mary’s Way, aku dan teman-teman yang tidak ikut kegiatan utama diberi tugas untuk pergi ke daycare. Saat masuk ke daycare itu, aku merasakan suasana yang damai dan menenangkan. Anak-anak kecil di sana langsung menyambut kami dengan tingkah laku yang lucu dan menggemaskan. Di sana, aku mengajak mereka bermain, menemani mereka makan, dan bahkan ada satu anak kecil yang terus-terusan minta ditemenin dari awal sampai selesai. Capek sih, tapi menyenangkan. Di tengah kesibukan itu aku merasa seperti menemukan ketenangan baru—rasanya hati adem dan rileks walaupun capek.
Kami juga ikut makan bersama selama tiga hari itu. Makanannya enak-enak: ada nasi uduk, bubur, dan nasi kuning. Aku juga melihat Nico dan Zevan membantu memasak makanan untuk anak-anak daycare. Guru-guru di sana pun terlihat sangat sabar membantu anak-anak makan, bahkan aku sempat melihat satu guru membantu seorang anak yang kesulitan makan.
Di daycare itu, aku jadi berpikir bahwa banyak anak kecil yang harus dijaga guru-guru karena orang tua mereka sibuk bekerja. Dari situ aku jadi lebih bersyukur, karena orang tuaku selalu berusaha menjemputku tepat waktu dan hadir untukku.
Di akhir kegiatan, aku teringat ayat dari Tesalonika 5:18:
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Daycare yang kami datangi berada di Santa Maria
Dokumentasi:



Komentar
Posting Komentar